Logistik

Kereta Trans-Sumatra Diragukan Pangkas Ongkos Logistik Tanpa Integrasi Depo

JAKARTA — Proyek pembangunan jalur Kereta Trans-Sumatra diragukan mampu memangkas ongkos logistik secara signifikan jika tidak dibarengi integrasi fasilitas depo…

e
elogi.platform@gmail.com
15 Juli 2026Waktu baca 4 mnt
Kereta Trans-Sumatra Diragukan Pangkas Ongkos Logistik Tanpa Integrasi Depo

JAKARTA — Proyek pembangunan jalur Kereta Trans-Sumatra diragukan mampu memangkas ongkos logistik secara signifikan jika tidak dibarengi integrasi fasilitas depo darat (inland depot). Para pelaku usaha menilai angkutan rel memang menawarkan tarif murah untuk pengiriman kargo jarak jauh. Namun, pengusaha tetap harus menanggung tambahan biaya bongkar muat pada titik transit pertama dan terakhir (first-mile dan last-mile). Akibatnya, efisiensi biaya dari angkutan rel menjadi sia-sia karena tingginya biaya penanganan manual di lapangan.

Tantangan Double Handling dalam Logistik Multimoda

Pengiriman barang via kereta api selalu membutuhkan kombinasi armada truk untuk menjangkau lokasi gudang atau pelabuhan. Selain itu, perpindahan moda dari truk ke gerbong kereta menciptakan tantangan penanganan ganda (double handling). Oleh karena itu, pengelola logistik kerap menghadapi risiko penumpukan antrean kontainer di stasiun bongkar muat.

Sementara itu, keterlambatan informasi mengenai status ketersediaan peti kemas kerap memicu leher botol operasional. Selanjutnya, proses administrasi kertas yang panjang membuat biaya inap atau storage cost di stasiun transit meningkat drastis. Dengan demikian, pelaku usaha logistik membutuhkan sistem integrasi data yang cepat dan transparan antar-moda transportasi.

Perbandingan Efisiensi Biaya dan Waktu Multimoda

Pelaku usaha wajib mengkaji efisiensi angkutan multimoda sebelum mengubah alur distribusi rantai pasok mereka. Di sisi lain, perbandingan struktur biaya memperlihatkan pentingnya integrasi sistem pada titik transit darat. Berikut adalah tabel perbandingan efisiensi pengangkutan kargo logistik darat:

Parameter LogistikTruk Jalan Raya (Direct)Kereta Api (Manual Depot)Kereta Api Multimoda Terintegrasi
Biaya Angkut UtamaTinggi (Rentan BBM & Pungli)Sangat RendahSangat Rendah
Biaya Double HandlingTidak AdaSangat Tinggi (Bongkar muat lambat)Rendah (Alur terverifikasi cepat)
Waktu Transit DepotTidak Ada4 hingga 8 Jam di stasiun30 hingga 60 Menit di depo
Risiko Demurrage / InapRendahTinggi akibat antrean manualMinimal (Jadwal teratur otomatis)
Total Ongkos LogistikSedang hingga TinggiTetap Tinggi (Terkuras di depo)Sangat Rendah dan Efisien

Kunci Efisiensi Ada pada Digitalisasi Depo Transit

Infrastruktur rel kereta api yang megah harus sejalan dengan kesiapan digitalisasi fasilitas penyimpanan darat. Oleh karena itu, pengelola terminal transit perlu menerapkan digitalisasi operasional depo guna mempercepat proses bongkar muat antarmoda. Sistem pintar ini membantu operator menata alur pemindahan peti kemas dari truk ke gerbong secara presisi.

Akibatnya, barang tidak mengalami penumpukan lama di area stasiun transit yang memicu pembengkakan biaya. Selanjutnya, perusahaan ekspedisi juga membutuhkan platform pengelolaan transaksi depo kontainer yang terhubung langsung dengan operator moda transportasi. Platform digital ini memungkinkan forwarder mengurus dokumen bongkar muat dan jaminan secara online tanpa birokrasi rumit.

Mewujudkan Konektivitas Logistik yang Kompetitif

Pemerintah dan pelaku swasta harus berkolaborasi membangun ekosistem logistik yang terhubung dari ujung ke ujung. Sebaliknya, keengganan beradaptasi dengan teknologi digital justru akan membuat investasi infrastruktur fisik kehilangan manfaat ekonominya. Oleh sebab itu, integrasi antara angkutan rel dan platform digital B2B merupakan kunci utama memangkas ongkos logistik Sumatera.

Daftar Sumber & Referensi (E-E-A-T):

  1. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) – Kajian Efisiensi Multimoda dan Angkutan Rel Sumatera.
  2. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia – Laporan Struktur Biaya Logistik dan Rantai Pasok Nasional.
  3. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia – Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) dan Konektivitas Lini Darat.
Kereta Trans-Sumatra Diragukan Pangkas Ongkos Logistik Tanpa Integrasi Depo | eLOGI Global International