Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan target ambisius untuk sektor manufaktur Indonesia di tahun 2024. Sektor ini diharapkan terus menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional dengan kontribusi sebesar 17,90% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tak hanya itu, sektor manufaktur juga diproyeksikan mampu menyerap 20,33 juta tenaga kerja dan menarik investasi hingga Rp630,57 triliun. Dari segi ekspor, Kemenperin optimis nilai ekspor produk manufaktur dapat mencapai Rp193,4 triliun.
Untuk mencapai target tersebut, Kemenperin fokus mengembangkan sektor unggulan seperti industri agro, kimia, farmasi, tekstil, logam, dan elektronik. Sektor-sektor ini memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sektor elektronik, misalnya, mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 14,57% sepanjang tahun 2023. Pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa sektor elektronik memiliki daya saing tinggi dan dapat terus dipacu. Kemenperin berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan double-digit di sektor elektronik serta sektor-sektor strategis lainnya dengan berbagai kebijakan yang mendukung inovasi dan investasi.
Selain sektor manufaktur besar, Kemenperin juga memberikan perhatian khusus kepada Industri Kecil dan Menengah (IKM). Dengan dukungan akses teknologi, pelatihan tenaga kerja, dan kebijakan insentif fiskal, IKM diharapkan mampu lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Langkah-langkah seperti digitalisasi IKM, penyediaan fasilitas mesin dan peralatan modern, serta promosi produk unggulan di pasar global menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat daya saing IKM. Program-program seperti "IKM Go Digital" dan "One Village One Product" juga terus didorong untuk menciptakan IKM yang lebih tangguh dan berdaya saing tinggi.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis, Kemenperin menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi. Pendekatan berbasis data dan kebijakan ramah lingkungan menjadi prinsip utama untuk mendukung pertumbuhan industri yang berkelanjutan.
Untuk mendorong keberlanjutan, Kemenperin menggalakkan penerapan praktik industri hijau, efisiensi energi, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan. Upaya ini tidak hanya meningkatkan daya saing manufaktur Indonesia, tetapi juga menjawab tuntutan pasar global yang semakin peduli terhadap lingkungan.
Menurut Menteri Perindustrian, kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku industri, target ambisius tahun 2024 bukanlah sekadar harapan, melainkan langkah nyata menuju perekonomian nasional yang lebih maju.
Dengan penguatan di berbagai sektor dan kolaborasi lintas pihak, Kemenperin optimis sektor manufaktur Indonesia akan menjadi tulang punggung ekonomi yang semakin tangguh di masa depan.